Pendidikan Kunci Perdamaian

YunandraCenter. Pendidikan fondasi perdamaian menjadi tema utama pertemuan regional Asia Tenggara yang bertempat di Jakarta pada 24 September 2025.

Acara ini merupakan inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) dan UNESCO Jakarta.

Pertemuan yang bertajuk “Countering Hate Speech and Preventing Conflicts Towards More Peaceful Societies Through Education”.

Acara tersebut menghadirkan menteri pendidikan, akademisi, organisasi internasional, hingga pemimpin muda dari negara-negara Asia Tenggara.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, guru besar UIN Jakarta menegaskan bahwa pendidikan adalah fondasi utama perdamaian.

Melalui pendidikan, bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, penanaman empati, serta nilai kebersamaan.

Indonesia sendiri sudah meluncurkan berbagai inisiatif, seperti

  • Program Wajib Belajar 13 Tahun,
  • Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, hingga
  • reformasi kurikulum literasi digital dan
  • penguatan konseling sekolah.

Direktur UNESCO Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa, menyoroti bagaimana ujaran kebencian dan disinformasi di era digital menjadi ancaman nyata.

Ia menekankan pendidikan sebagai tameng paling kuat untuk membangun kemampuan berpikir kritis dan interaksi penuh hormat.

UNESCO pun mendorong implementasi Recommendation on Education for Peace, Human Rights, and Sustainable Development yang luncur tahun 2023, sebagai pedoman nyata dalam menciptakan masyarakat damai dan inklusif.

Sejumlah negara berbagi praktik baik:

  • Filipina: Integrasi pendidikan perdamaian dalam pelatihan guru.
  • Indonesia: Deep learning approach berbasis proyek untuk global citizenship.
  • Timor-Leste: Revisi kurikulum pendidikan HAM dan kewarganegaraan.
  • Malaysia: Integrasi nilai perdamaian dalam semua mata pelajaran.

Dukungan juga datang dari KOICA yang menekankan pentingnya pendidikan sebagai sarana rekonsiliasi dan refleksi sejarah.

Forum ini diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan periode 2026–2030, meliputi:

  • Penguatan literasi digital.
  • Pembelajaran kewargaan digital.
  • Kolaborasi pendidikan lintas negara di kawasan Asia Tenggara.

Seperti yang ditegaskan Maki Katsuno-Hayashikawa:

Karena perang dimulai di benak laki-laki dan perempuan, maka di benak laki-laki dan perempuanlah pertahanan terhadap perdamaian harus dibangun.”

Pertemuan regional ini menegaskan peran vital pendidikan dalam menciptakan perdamaian berkelanjutan.

Dengan sinergi antarnegara, Asia Tenggara dapat melahirkan generasi yang kritis, empatik, dan mampu merawat keberagaman.

Pendidikan adalah kunci, perdamaian adalah tujuan.


Sumber: www.kemendikdasmen.go.id


Penerimaan Santri Baru Pondok Pesantren dan Boarding School
Ingin Meningkatkan Kompetensi
Secara Mandiri
,

Silahkan belajar
di madrasahyunandra.com
Buka
Penerimaan Peserta Didik Baru Madrasah dan Sekolah Islam
Penerimaan Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi Islam Negeri dan Swasta