Daftar Isi
YunandraCenter. Pendidikan karakter sebagai kunci di era digital menjadi perhatian utama dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga beradab, bijak, dan berakhlak mulia.
Di tengah derasnya arus teknologi dan media sosial yang seringkali lebih mementingkan viralitas dibanding kebenaran, pendidikan karakter hadir sebagai pondasi penting agar anak-anak mampu mengendalikan diri, kritis dalam berpikir, serta tetap berpegang pada nilai moral dan spiritual.
Pendidikan Karakter Kunci Hadapi Era Digital: Pesan Wamen Fajar
Di era digital saat ini, anak-anak sejak usia dini sudah akrab dengan media sosial dan perangkat pintar.
Tanpa disadari, pola pengasuhan digital seringkali membentuk karakter generasi muda, baik positif maupun negatif.
Hal ini menjadi perhatian serius Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, yang menegaskan bahwa pendidikan karakter adalah kunci utama dalam menghadapi tantangan zaman.
Dalam kuliah umum bertajuk “Peran Dai Digital dalam Penguatan Pendidikan Karakter di Era Transformasi Pendidikan” di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Sumatra Selatan, Fajar menyoroti fenomena anak yang tumbuh dengan media sosial sejak kecil.
Menurutnya, hal ini menyebabkan pertumbuhan sosial emosional melambat, komunikasi melemah, hingga muncul istilah brain rot, yaitu kondisi ketika anak malas berpikir karena terlalu bergantung pada mesin.
“Pendidikan karakter pada akhirnya adalah membentuk anak-anak menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak, beradab, dan mampu mengendalikan diri di tengah derasnya arus digital,” ujar Fajar.
Tantangan Media Sosial dan Peran Dai Digital
Wamen Fajar mengingatkan bahwa algoritma media sosial lebih mengutamakan popularitas ketimbang kebenaran. Konten singkat dan emosional lebih cepat viral dibanding konten mendalam dan bernilai.
Konten singkat dan emosional lebih cepat viral dibanding konten mendalam dan bernilai
Karena itu, ia menekankan pentingnya dai digital yang mampu menghadirkan dakwah dan pesan moral dengan cara yang relevan, inspiratif, dan membangun persatuan.
“Jika kita tidak hadir di ruang digital dengan konten yang benar, anak-anak akan mencari jawaban sendiri di mesin pencari atau chatbot,” tegasnya.
Langkah Konkret: Pendidikan Berbasis Kecerdasan Buatan
Sebagai respon atas tantangan zaman, Kemendikdasmen memperkenalkan mata pelajaran pilihan Kecerdasan Buatan (AI) sejak kelas V SD.
Tujuannya bukan sekadar agar anak melek teknologi, melainkan juga memiliki literasi digital, etika berteknologi, serta kesadaran kritis terhadap dampak teknologi.
Program ini diharapkan melahirkan generasi dengan keadaban digital, yakni mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai moral dan kemanusiaan.
Inti Pendidikan: Membangun Peradaban
Pendidikan karakter adalah jantung dari sistem pendidikan. Tanpanya, ilmu pengetahuan hanya menjadi alat tanpa arah.
Dengan karakter yang kuat, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga:
- Beriman dan berakhlak mulia
- Bertanggung jawab terhadap diri dan lingkungannya
- Bijak dalam menggunakan teknologi
- Menjadi generasi pembangun peradaban yang berkelanjutan.
Seperti ditegaskan Fajar, “Pencerahan yang dibawa agama tidak boleh kalah oleh sekadar viralitas. Pendidikan karakter adalah fondasi agar anak-anak kita menjadi generasi beradab di era digital.”
Sumber: www.kemendikdasmen.go.id
Berita Pendidikan
- Sekolah Terpadu Samarinda Jadi Model Sekolah Unggul Non-Asrama
- Literasi sebagai Bekal Peradaban Bangsa di Era Teknologi
- Pendidikan Fondasi Perdamaian: Sinergi Regional Asia Tenggara 2025
- Pentingnya PPG Guru PAI pada Sekolah Menurut Menteri Agama
- Keunggulan 7 SD Islam di Cilandak Jakarta Selatan

- SMA Islam Cilandak


| Ingin Meningkatkan Kompetensi Secara Mandiri, Silahkan belajar di madrasahyunandra.com |
| Buka |




